0 4 min 3 hari

Bandar Lampung, Beeoninfo.com
Jelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), Sebanyak delapan (8) nama Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ramai diperbincangkan dalam bursa calon Ketua Umum PBNU.

Adapun, kedelapan nama calon Ketua Umum PBNU tersebut yakni, Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Wakil Ketua Umum PBNU KH Zulfa Mustofa, Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua PWNU Jawa Tengah KH Abdul Ghaffar Rozin (Gus Rozin), Menteri Agama Nasaruddin Umar, Bendahara Umum PBNU Gudfan Arif, Pengasuh Pondok Pesantren API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), serta KH Abdussalam Shohib (Gus Salam).

MenurutKetua Bidang Hukum dan Media PBNU, Prof Dr KH Mohammad Mukri., M.Ag mengatakan, munculnya banyak nama menjelang muktamar merupakan hal yang wajar. Lanjut Mukri, dinamika tersebut mencerminkan sehatnya proses demokrasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.

“Kalau kemudian agak-agak hangat, ada banyak yang ingin maju menjadi Ketua Umum, ya biasalah. Itu justru sekaligus penampakan adanya demokrasi, ada penyampaian aspirasi,” ungkapnya, Sabtu (18/7/2026).

Meski demikian, Mukri menyampaikan, hingga saat ini belum ada figur yang benar-benar unggul dalam perolehan dukungan. Sampai saat ini, nama calon masih dinamis dan belum mengerucut ke calon yang kuat. Bisa saja terjadi koalisi dari nama-nama yang muncul.

Mukri mengatakan, konfigurasi dukungan masih sangat dinamis dan berpotensi berubah hingga forum muktamar berlangsung. Hal itu karena proses penjaringan calon baru akan dilakukan secara resmi pada saat pelaksanaan muktamar.

Berdasarkan mekanisme organisasi, lanjutnya, setiap bakal calon Ketua Umum PBNU harus memperoleh sedikitnya 99 dukungan dari Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) maupun Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) agar dapat ditetapkan sebagai calon.

“Belum bisa diprediksi siapa kandidat yang memiliki peluang paling besar untuk memimpin PBNU,” jelasnya.

“Kalau ternyata kurang dari situ kan enggak memenuhi untuk jadi calon. Nanti bisa saja semacam koalisi,”  imbuhnya.

Menurutnya, peta kekuatan baru akan terlihat secara jelas ketika seluruh tahapan pencalonan berlangsung dalam Muktamar Ke-35 NU.

“Ya sekarang sih kalau ngomong mengerucut, belum ya. Tapi nanti ending-nya seperti apa, mengerucutnya nanti ketika muktamar,” ujarnya.

Tahap Pemantapan Persiapan Muktamar Pada kesempatan tersebut, masih kata Mukri, persiapan pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama telah memasuki tahap pemantapan.

Menurutnya, koordinasi antara panitia pusat dan panitia lokal terus dilakukan secara intensif untuk memastikan seluruh kebutuhan penyelenggaraan dapat dipenuhi sebelum muktamar digelar.

“Kesiapan sarana dan prasarana di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, sebagai lokasi penyelenggaraan, tidak lagi menjadi kendala. Berbagai aspek teknis telah dipersiapkan sehingga panitia kini dapat lebih fokus pada penyempurnaan substansi agenda muktamar,” terangnya.  

Lebih lanjut, Mukri menerangkan, tahapan yang kini menjadi perhatian panitia adalah penyusunan dan pematangan materi persidangan.

Materi tersebut akan menjadi bahan pembahasan para peserta muktamar dalam menentukan arah kebijakan organisasi, merumuskan berbagai rekomendasi strategis, serta menetapkan keputusan-keputusan penting yang akan menjadi pedoman PBNU pada masa khidmat mendatang.

Ia optimistis Muktamar Ke-35 NU yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 dapat terselenggara dengan lancar, tertib, dan menghasilkan keputusan-keputusan yang membawa kemaslahatan bagi jam’iyyah Nahdlatul Ulama serta bangsa Indonesia. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *