Bandar Lampung, beeoninfo.com
Anggota Lembaga Perlindungan Konsumen -Gerakan Perubahan Indonesia (LPK-GPI) Lampung Abdul Azies meminta pada pihak Lampung Marriott Resort & Spa melakukan evaluasi pada kinerja tenaga keamanan di hotel tersebut.
Hal ini diungkapkan usai dirinya melakukan pendampingan pada 8 anak usia dibawah umur yang menjadi tertuduh pelaku perusakan dan pencurian di gedung Helipad Lampung Marriott Resort & Spa beberapa hari lalu.
“Alhamdulillah sudah selesai, tidak ada bukti dan saksi yang bisa menjadikan delapan anak tersebut tersangka.” Ungkap Abdul Azeis pada Rabu (16/09).
Mediasi tanya jawab antara pihak kemanan Marriott dan delapan anak tertuduh pelaku perusakan dan pencurian dilakukan di aula balai desa dan ditengahi oleh Sekretaris desa Sukajaya Lempasing, Rusli Effendi, Babinsa Sukajaya Lempasing Sertu Joni Ferisal, Bhabinkamtib Sukajaya Lempasing Aipda Fauzan Rakamigo dan Kepala Dusun Mutun Slamet Riyadi pada Selasa (15/09) kemarin.
Dalam sesi tanya jawab dan mediasi tersebut, tidak ada bukti atau saksi apapun yang bisa menguatkan jika delapan anak yang menjadi tertuduh adalah benar pelaku pencurian dan perusakan.
“Semua tuduhan dari pihak keamanan Marriott tidak ada yang menguatkan. Ada juga bukti video kalau satu anak mengaku, tapi kemudian dibantah karena pada saat mengaku itu dia diduga kuat berada dalam tekanan” Imbuh Abdul Azies.
Abdul Azies juga kemudian menyarankan pada pihak Lampung Marriott Resort & Spa agar membenahi sistem keamanan dan melakukan evaluasi pada tenaga keamanan dihotel tersebut. Menurutnya, kinerja petugas keamanan yang tidak profesional dan sistem keamanan yang tidak mendukung sangat berpeluang terus merugikan hotel tersebut.
“Semoga saja kejadian seperti ini tidak terulang kembali, Marriott harus belajar dari kejadian ini. Evaluasi petugas keamanan dan sistem pendukung keamanan.” lanjutnya.
“Inikan sebenarnya jadi pertanyaan harusnya bagi Marriott, kemana petugas keamanannya kok bisa ada gedung dibobol pencuri ?” pungkas Azies.

