0 4 min 4 bulan

Bandar Lampung, Beeoninfo.com

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lampung (Unila) melaksanakan kegiatan wicara guru besar dalam rangka Dies Natalis ke-58 FKIP Unila, yang dilaksanakan di Aula K FKIP Unila, Kamis (29/1/2026).

Kegiatan yang secara langsung dibuka oleh Rektor Unila tuurut menghadirkan Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, 24 guru besar FKIP Unila dari berbagai bidang keilmuan pendidikan, serta tamu undangan lainnya.

Dengan mengusung tema “Kolaborasi Berkelanjutan dalam Mewujudkan FKIP Universitas Lampung Berdampak, Unggul, dan Berdaya Saing Global”

Menurut Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Lusmeilia Afriani, D.E.A., IPM., ASEAN Eng mengatakan, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks dan tidak dapat diselesaikan satu institusi secara mandiri.

“Pendidikan tidak dapat dipikul oleh satu institusi atau satu aktor saja. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri, perguruan tinggi tidak boleh merasa cukup di menara gading, dan kebijakan tanpa dukungan akademik berisiko kehilangan arah,” ungkapnya.

Rektor juga menekankan, kolaborasi berkelanjutan harus berangkat dari kepekaan terhadap persoalan nyata di lapangan, diperkuat oleh keilmuan dan riset, serta diwujudkan melalui pengabdian yang memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Masih kata Rektor, pendidikan bukan semata soal kurikulum dan teknologi, tetapi tentang manusia sebagai subjek utama.

FKIP sebagai salah satu fakultas tertua di Unila dinilai memiliki peran strategis dalam membentuk kualitas pendidikan di Provinsi Lampung.

Selama 58 tahun perjalanannya, FKIP telah melahirkan ribuan pendidik dan agen perubahan yang berkontribusi langsung bagi kemajuan bangsa.

Ditempat yang sama, Dekan FKIP Unila, Dr. Albet Maydiantoro, M.Pd mengatakan, apresiasinya terhadap penyelenggaraan gelar wicara guru besar FKIP.

Ia menilai forum akademik tersebut sebagai ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan mutu pendidikan di Lampung.

“Melalui forum ini, kami berharap gagasan dan rekomendasi para guru besar tidak hanya berhenti pada diskusi akademik, tetapi dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan dan program pendidikan yang berdampak nyata bagi masyarakat Lampung,” ujarnya.

Ia juga menekankan, tantangan pendidikan, seperti peningkatan Angka Partisipasi Kasar (APK), memerlukan kontribusi pemikiran dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk akademisi dalam mewujudkan transformasi pendidikan daerah yang berkelanjutan dan berdaya saing.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen tersebut, FKIP Unila akan meluncurkan buku bunga rampai berjudul “Pemikiran Strategis Guru Besar FKIP Universitas Lampung dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Provinsi Lampung”.

Buku ini memuat gagasan dan refleksi akademik para guru besar untuk merefleksikan perjalanan akademik serta memperkuat kontribusi keilmuan yang telah dibangun selama ini.

Selain itu, karya tersebut juga menjadi wadah untuk merumuskan arah pemikiran FKIP Unila dalam menjawab tantangan dan dinamika pendidikan di Provinsi Lampung.

Harapannya, buku ini dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan mutu pendidikan di masa mendatang melalui perspektif strategis dan reflektif dari para akademisi senior.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung, Thomas Amirico, S.STP., M.H menyampaikan, pentingnya peran perguruan tinggi dalam merespons persoalan mendasar pendidikan di Lampung, khususnya terkait rendahnya nalar kritis peserta didik dan kualitas input pendidikan.

Menurutnya, perbaikan mutu pendidikan harus menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

“Ruang diskusi di kelas dan sekolah kita masih hampa karena nalar siswa belum terlatih. Banyak anak hari ini tidak berani bertanya dan tidak siap untuk ditanya. Ini adalah fakta di lapangan dan menjadi persoalan besar yang kita hadapi bersama,” tegasnya.

Lanjut Thomas, proses rekrutmen dan pengembangan profesional guru belum sepenuhnya berjalan sesuai standar akademik dan pedagogik yang ideal. Bahkan, masih ditemukan guru yang mengajar tidak sesuai dengan latar belakang keilmuannya.

Kondisi tersebut, turut memengaruhi capaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM) serta ketimpangan kualitas pendidikan antarwilayah yang berdampak pada konsentrasi peserta didik di sekolah-sekolah tertentu di wilayah perkotaan.

Melalui gelar wicara guru besar ini, FKIP Unila diharapkan terus menjadi motor penggerak transformasi pendidikan daerah yang berbasis riset, kepekaan sosial, dan kolaborasi lintas sektor yang berkelanjutan. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *