0 4 min 4 hari

Beeoninfo.com
Dirinyamengajak warga binaan hijrah dan muhasabah sebagai langkah memperbaiki diri menuju kehidupan yang lebih baik.

Hal itu diungkapkan oleh Ketua Umum MUI Provinsi Lampung, Prof. Dr. KH. Moh. Mukri, M.Ag saat memberikan Tausiyah kepada 600  warga binaan dalam kegiatan Tablig Akbar Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah di Lapas Narkotika Kelas II A Bandar Lampung, pada Senin (15/6/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Aula Lapas tersebut menjadi momentum penguatan mental dan spiritual bagi warga binaan.

Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan menumbuhkan semangat perubahan diri melalui nilai-nilai keagamaan yang terkandung dalam peringatan Tahun Baru Islam.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kalapas Narkotika Kelas II A Bandar Lampung Jumadi, A.Md., IP., S.H., M.H., Ketua MWCNU Jati Agung Kyai Ahmad Ansori, Ketua Tanfidziyah PRNU Jatimulyo Ustadz Nurrohman, Direktur NU Media Jati Agung Mas Andri Supriyadi, Pemimpin Redaksi NU Media Jati Agung Arif Riana, serta Kabiro Lampung Selatan M-TJEK NEWS, Erwin Indra S.

Menurut Prof. Mukri, setiap manusia memiliki guru sejati yang selalu memberikan petunjuk dalam menjalani kehidupan, yakni hati nurani.

“Ketika seseorang sedang sendirian, cobalah berdialog dengan diri sendiri. Mintalah nasihat kepada diri sendiri. Di dalam diri manusia terdapat apa yang oleh para ulama dan orang-orang bijak disebut sebagai guru sejati,” ungkapnya.

Masih kata Prof. Mukri, manusia setiap hari menerima berbagai bisikan dalam batinnya. Namun demikian, manusia harus mampu membedakan bisikan yang membawa kebaikan dengan bisikan yang hanya mengajak kepada kesenangan semata.

“Bisikan yang membuat hati menjadi tenang, adem, dan tenteram itulah bisikan hati nurani yang harus kita dengarkan,” jelasnya.

Selanjutnya, Prof. Mukri mengingatkan pentingnya mengendalikan hawa nafsu dalam menjalani kehidupan.

Untuk memperjelas pesannya, ia mengutip pepatah Jawa yang berbunyi, “Ngunu yo ngunu, ning ojo ngunu.”

Pepatah tersebut mengandung makna bahwa setiap orang harus menjalani kehidupan secara proporsional dan tidak berlebihan.

“Keinginan untuk bersenang-senang itu manusiawi. Akan tetapi ketika dilakukan tanpa batas dan berlebihan, justru akan menimbulkan kesulitan bagi diri sendiri,” katanya.

Selain mengajak warga binaan mendengarkan suara hati nurani, Prof. Mukri juga mengingatkan pentingnya mewaspadai bisikan setan dan iblis yang sering menghadirkan kegelisahan, kecemasan, dan ketakutan.

“Oleh karena itu, selama masih memiliki hati nurani, cobalah bertanya kepada diri sendiri. Renungkan setiap langkah yang akan diambil. Hati nurani yang jernih akan membantu kita membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik,” pesannya.

Lebih lanjut, ia mengajak seluruh peserta menjadikan Tahun Baru Islam sebagai momentum untuk memperbaiki diri dan menata kehidupan yang lebih baik.

“Momentum tahun baru ini mari kita awali dengan niat yang tulus. Bismillah, kita hijrah menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya,” ujarnya.

Menurut Prof. Mukri, Bulan Muharam merupakan salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT.

Karena itu, umat Islam perlu memanfaatkan momentum tersebut untuk melakukan muhasabah dan meningkatkan amal kebaikan.

“Kita meyakini bahwa Muharam adalah bulan untuk bermuhasabah, melakukan evaluasi diri. Apa yang telah berlalu biarlah menjadi pelajaran. Kini saatnya menata niat dan memperbaiki diri agar hari esok lebih baik daripada hari kemarin,” tuturnya.

Prof. Mukri menegaskan, peringatan Tahun Baru Islam bukan sekadar pergantian tahun dalam kalender Hijriah, melainkan momentum mengambil hikmah dari hijrah Rasulullah SAW.

“Kita harus mengambil pelajaran dari peristiwa hijrah. Tidak ada manusia yang tidak pernah melakukan kesalahan. Namun manusia terbaik adalah mereka yang mau menyadari kekeliruannya, memperbaiki diri, dan terus melangkah menuju kebaikan,” pungkasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *