Pemerintah Indonesia menolak bantuan kemanusiaan dari negara asing seperti China dan Iran dalam penanganan korban terdampak bencana gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).
Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, mengklaim pemerintah masih menyanggupi untuk memenuhi kebutuhan logistik para pengungsi termasuk perbaikan bangunan.
“Belum ya, nanti kami lihat. Karena berdasarkan laporan kami, kebetulan juga setiap hari memonitor perkembangan di lapangan, semua masih bisa kita tangani,” ucap Prasetyo.
Namun hingga hari keenam setelah gempa, para pengungsi mandiri seperti di Kabupaten Sikka luput dari perhatian pemerintah.
“Kami mengungsi ke pasar, bantuan tidak dapat, kami masak sendiri,” tutur Jawatia, warga Kecamatan Alok.
Ketua Umum Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia, Avianto Amri, mengatakan menerima bantuan negara lain bukan sebuah bentuk kelemahan, tapi wujud solidaritas dan kerjasama antarnegara.
Sikap menolak tersebut, menurutnya, malah “melemahkan semangat kemanusiaan bahwa setiap orang berhak mendapatkan bantuan”.
Berdasarkan data BNPB, total bantuan yang siap disalurkan secara bertahap mencapai 394 ton, pada Rabu (19/08).
Bantuan tersebut berupa pangan dan nonpangan, seperti paket sembako, makanan siap saji, mi instan, obat-obatan, matras, selimut, tenda, velbed, hygiene kit hingga alat penjernih air.
Semua bantuan itu dikirim dengan pesawat TNI AU melalui beberapa tahap.
Terkait anggaran, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan pemerintah menyiapkan Dana Cadangan Bencana sebesar Rp5 triliun, sementara Dana Siap Pakai hanya Rp250 miliar.
Jika kebutuhan pembiayaan meningkat, ia mengklaim pemerintah akan menyesuaikan dukungan anggaran demi memastikan penanganan bencana bisa berjalan baik.
“Kalau untuk bencana, dari BNPB dulu, kalau kurang baru kita rekonstruksi. Jadi enggak ada masalah,” ucap Purbaya.
Hal itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, pada Senin (17/08), seperti dilansir Xinhua.
“Kami menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada para korban serta simpati tulus kepada keluarga korban yang meninggal dunia dan mereka yang terluka,” ujar Lin dalam konferensi pers.
China menyatakan Konsulat Jenderal mereka di Denpasar telah mengaktifkan mekanisme darurat untuk memberikan bantuan kepada korban yang terdampak.
Sebelumnya, pada Minggu (16/08), Pezeshkian juga telah bersurat kepada Presiden Prabowo untuk menyampaikan empatinya kepada para korban gempa.
“Saya mengungkapkan duka cita dan simpati saya kepada Yang Mulia [Presiden Prabowo], pemerintah, dan rakyat Indonesia yang bersahabat, terutama para keluarga yang berduka dan terdampak,” kata Pezashkian dikutip dari IRNA.
“Dalam situasi yang sulit ini, kami mengumumkan kesiapan kami untuk memberikan bantuan dan suplai medis apa pun. Saya memohon kepada Allah Yang Mahakuasa supaya para korban meninggal mendapat ampunan-Nya, para korban luka cepat pulih, dan para korban selamat tabah serta sabar.” lanjut Pezashkian.
Menanggapi tawaran itu, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyebut Indonesia belum mau menerima bantuan dari luar negeri tersebut.
Prasetyo bilang pemerintah masih sanggup menangani bencana di NTT.
Ini, adalah kali kedua pemerintah menolak tawaran asing, seperti halnya banjir bandang yang menerjang Aceh pada akhir 2025.

