0 3 min 3 minggu

Nasional, beeoninfo.com

Gempa berkekuatan Magnitudo 7, 7 mengguncang wilayah Flores Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi (15/8). Badan Meteorologi Klimatologi Dan Geofisika (BMKG) awalnya mencatat gempa bermagnitudo 7,0 yang terjadi pukul 05.58 WITA, lalu memperbarui kekuatannya menjadi M7,7. Kuatnya guncangan sempat membuat warga Labuan Bajo panik dan berhamburan ke luar rumah saat guncangan terasa kuat.

Pusat gempa diketahui berada di wilayah Kabupaten Nagekeo, sekitar 30 kilometer timur laut, pada kedalaman 15 kilometer. BMKG juga sempat mengeluarkan peringatan dini Tsunami pada beberapa wilayah yang berpotensi terdampak.

Peringatan tersebut mencakup empat provinsi, yakni Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi Tenggara.

Sejumlah wilayah bahkan sempat berstatus Siaga dengan estimasi ketinggian gelombang tsunami antara 0,5 hingga 3 meter.

Wilayah yang masuk dalam status tersebut antara lain Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Sikka bagian utara, Selayar, Jeneponto, dan Bantaeng.

BMKG kemudian mendeteksi tsunami kecil di sejumlah titik setelah gempa NTT terjadi.

Gelombang setinggi 0,30 meter tercatat di Baubau, Sulawesi Tenggara, pada pukul 05.47 WIB. Gelombang dengan ketinggian lebih kecil juga terpantau di perairan Sikka dan Labuan Bajo.

Berdasarkan laporan pendahuluan Kodim Sikka, gempa tersebut menyebabkan dua orang meninggal dunia dan satu orang lainnya mengalami luka.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengonfirmasi adanya korban jiwa akibat gempa NTT 15 Agustus 2026.

“Dua korban meninggal dunia masing-masing berjenis kelamin laki-laki dan perempuan,” kata Berton dalam keterangannya, Sabtu, 15 Agustus 2026.

Berton menegaskan data korban masih dalam proses verifikasi dan pendataan lebih lanjut. Petugas gabungan Basarnas, TNI, dan Polri masih melakukan evakuasi di lapangan.

Terkini, BMKG akhirnya mencabut status peringatan dini tsunami.

Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengumumkan berakhirnya masa siaga tersebut.

“Peringatan dini tsunami yang disebabkan oleh gempa kekuatan 7,7 hari ini pukul 04.58 WIB dinyatakan telah berakhir,” ujar Wijayanto di Jakarta, Sabtu siang.

Meski peringatan tsunami telah berakhir, BMKG tetap mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan gempa susulan.

Imbauan tersebut disampaikan karena tercatat sedikitnya 37 kali gempa susulan setelah gempa utama. Gempa susulan terbesar mencapai Magnitudo 6,2.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, menjelaskan BMKG mengidentifikasi bahwa gempa bumi dangkal berkedalaman 15 km ini bersumber dari aktivitas Flores Back-Arc Thrust. Hasil analisis pemutakhiran parameter menunjukkan episenter gempa bumi berada di laut pada koordinat 8,41° LS dan 121,39° BT, atau tepatnya 30 km arah timur laut Nagekeo, NTT.

“BMKG tidak lagi mencatat adanya kenaikan muka air laut yang signifikan dan membahayakan masyarakat di sepanjang pesisir terdampak,” kata Nelly di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu (15/8).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *