0 3 min 4 minggu

Nasional, beeoninfo.com

Beberapa oknum Tenaga Kerja Kesehatan (Nakes) mengucapkan pernyataan permohonan maaf usai mereka terpantau netizen memberikan komentar tidak manusiawi pada salah satu keluhan pasien disosmednya.

Awal kejadian adalah ketika salah satu pasien yang bernama Yurizal Tri mengeluhkan sulitnya mendapatkan kamar saat akan dirawat disebuah rumah sakit yang namanya dirahasiakan karena khawatir terkait penggunaan layanan BPJS Kesehatan. Padahal, kondisi dirinya sendiri saat itu sudah sangat kritis.

Yurizal Tri kemudian mengeluh diakun sosmed Thread miliknya pada 22 Juli 2026 lalu.

“8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS,” tulis Yurizal saat itu, dikutip Rabu (5/8/2026).

Alih – alih mendapat simpati, postingan Yurizal Tri sendiri kemudian dipenuhi oleh kecaman dan kata – kata tidak pantas yang diduga kuat berasal dari beberapa oknum nakes.

Tak lama kemudian, Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026. Kabar duka tersebut kemudian memicu reaksi netizen yang kemudian balas menyerang beberapa oknum nakes. Bahkan saking kesalnya netizen pada nakes tersebut yang dianggap tidak memiliki hati nurani, beberapa akun instagram hingga fokus menelusuri dan mendalami siapa – siapa saja yang menuliskan kata – kata sinis dan tak pantas.

Dari penelusuran media ini, akun badanperwakilan netizen2 bahkan dengan gamblangnya memaparkan wajah dan nama beserta tangkapan layar komentar – komentar mereka dipostingan almarhum Yurizal Tri.

Atas reaksi keras netizen tersebut, beberapa oknum nakes pun kemudian mengunggah permohonan maaf mereka melalui akun sosial media masing – masing.

Kejadian ini kemudian mendapat perhatian khusus dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi biasa disapa KDM dan meminta Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mengambil tindakan tegas pada salah satu nakes yang turut memberi komentar tak enak dan diketahui bekerja di RSUD Dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya, Jawa Barat.

“Meskipun kewenangannya ada di Wali Kota Tasikmalaya, tindakan tegas berupa sanksi harus segera diberikan agar menjadi evaluasi bersama,” kata KDM, Rabu (5/8/2026). 

Tidak berhenti begitu saja, hingga berita ini diterbitkan kejadian inipun masih terus memicu diskusi luas mengenai etika dokter dan tenaga kesehatan dalam menggunakan media sosial. Banyak pihak menilai profesi kesehatan tetap dituntut menjaga empati dan profesionalisme, termasuk saat memberikan tanggapan di ruang digital.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *